Lettering pada Peta (Metode dan Aturannya)

Lettering pada Peta – Salah satu komponen atau unsur peta dalam pembuatannya yaitu lettering peta. Lettering pada suatu peta sangat diperlukan. Lettering juga hampir sama pentingnya dengan komponen/unsur-unsur peta lainnya seperti penskalaan peta, simbol-simbol peta, serta bebera unsur lainnya. Lettering harus diupayakan secara hati-hati dan benar. Kesalahan pada lettering akan menimbulkan kebingungan pembaca peta, sehingga sulit dibaca dan ditafsirkan oleh pengguna. Jadi pemahaman atas tata penamaan atau lettering pada suatu peta sangatlah penting.
Lettering pada Peta
Peta dengan Tata Penulisan / Lettering Peta

Lettering pada Peta

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam lettering suatu peta, yaitu sebagai berikut.
  1. Corak atau macam huruf, meliputi ketebalan garis dan huruf serta coretan pada awal dan akhir setiap huruf (Serif).
  2. Bentuk huruf, meliputi huruf besar, huruf kecil, kombinasi huruf- besarkecil, tegak (Romana, upright), miring (italic). Huruf-huruf yang dipakai pada kartografi modern disebut Sans Serif (gothic).
  3. Ukuran huruf, dinyatakan dalam istilah point size. Satu point size memiliki tinggi lebih kurang 0,35 mm (1/27 inci). Point size merupakan jarak tepi atas (ascender) dan tepi bawah (descender).
  4. Kontras antara huruf dan latar belakang (background).
  5. Metode lettering atau penamaan/penulisan pada peta.
  6. Penempatan nama atau huruf.

Metode Lettering pada Peta

Berikut ini kami akan memberikan penjelasan lebih rinci mengenai bagaimana metode lettering peta (poin no. 5 faktor lettering di atas):

1) Stick up lettering
Metode ini paling baik dibandingkan dengan metode lain nya karena memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
  • Lebih cepat;
  • Tidak membutuhkan keahlian khusus; dan
  • Jika posisi huruf atau nama kurang tepat, masih dapat diperbaiki. Umumya stick up lettering dicetak pada plastik yang balikannya diberi perekat. Cara penempelannya dilakukan dengan memotong nama demi nama atau huruf demi huruf. Cara lain penempelannya dilakukan dengan mengosok setiap huruf. Ada dua jenis cara mereproduksi stick up lettering yaitu nonimpact (photography, electronic) dan impact (dengan mesin ketik atau pencetakan).

2) Computer Assisted Lettering
Perkembangan pemakaian peralatan komputer grafik mendorong kartografer untuk menerapkan beberapa metoda letering secara elek tronis. Dengan cara ini, peta diberi namanama dengan vector plotter atau raster printer. Kelemahan metode letering dengan komputer adalah pada penem patan nama karena komputer hanya dapat menempatkan nama-nama tersebut secara lurus dan horizontal.

3) Sistem Mekanis, Letering dengan Tinta
Peralatan mekanis yang membantu pelaksanaan letering dengan tinta, yaitu leroy, wrico, dan varigraph. Pengoperasikan ketiga alat tersebut menggunakan bantuan template dan pena khusus. Dari ketiga alat tersebut, varigraph merupakan alat yang paling baik karena dapat mengubah bentuk huruf.
varigraph
Salah Satu Jenis Varigraph

Aturan Penempatan Nama atau Huruf dalam Proses Lettering Peta

Khusus untuk penempatan nama atau huruf dalam tata lettering peta juga akan diulas lebih rinci (poin no. 6 pada faktor lettering di atas). Penempatan nama sering merupakan pekerjaan yang sukar terutama untuk peta yang padat dengan nama-nama fenomena. Penempatan nama harus jelas dan mudah dibaca para pengguna. Ada beberapa ketentuan atau aturan tentang penempatan nama, yaitu sebagai berikut.
  1. Nama-nama dalam suatu lembar peta harus teratur susunannya, sejajar dengan tepi bawah peta (peta skala besar) atau sejajar dengan grid (peta skala kecil).
  2. Nama-nama yang tercantum dapat memberi keterangan dari unsur-unsur yang berbentuk titik, garis, dan area. Untuk fenomena yang menggunakan titik, seperti kota, bangunan, dan gunung sebaiknya diletakkan di samping kanan agak ke atas dari unsur tersebut. Fenomena yang berbentuk linier, seperti sungai, pantai, jalan, dan batas wilayah administratif sebaiknya diletakkan sejajar dengan unsur tersebut. Sungai yang berupa garis sebaiknya ditempatkan sedikit di atas objeknya. Fenomena yang memerlukan keterangan luas, seperti negara, danau, dan pegunungan sebaiknya penamaan ditempatkan memanjang.
  3. Nama-nama harus terletak bebas satu dengan lainnya dan diusahakan tidak terganggu simbol-simbol lainnya. Namanama tidak boleh saling berpotongan kecuali apabila ada nama yang huruf-hurufnya memiliki jarak yang jelas.
  4. Apabila nama-nama harus ditempatkan melengkung, bentuk dari lengkungan harus teratur.
  5. Nama-nama yang terpusat di suatu titik lokasi harus diatur sedemikian rupa sehingga terlihat tidak terlalu mepet.
  6. Atribut kontur ditempatkan di celah-celah tiap kontur dimana penem patannya teratur sehingga tiap angka terbaca dan terdapat ada arah mendaki lereng.
  7. Pemilihan huruf bergantung pada perencanaan kartografer sendiri. Akan tetapi, jenis-jenis huruf tersebut harus sama pada keseluruhan isi peta. Ada beberapa aturan tentang pemakaian jenis huruf. Misalnya, huruf-huruf tegak lurus untuk nama-nama fenomena budaya (kota, jalan, lalulintas), dan huruf miring untuk nama-nama unsur fisik (sungai, danau, pegunungan). Pada dasarnya, tidak ada aturan yang baku mengenai pemilihan jenis huruf karena diserahkan sepenuhnya pada kartografer dengan tetap memerhatikan prinsip agar peta tersebut dapat memberikan kemudahan bagi para penggunanya.
Lettering pada Peta
Aturan Penempatan Nama pada Peta [a) Salah & b) Benar]

Demikian penjelasan seputar Lettering pada Peta yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua, dan salam GEO.

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter