12 Unsur unsur Peta Disertai Penjelasannya

Unsur unsur Peta - Berikut merupakan unsur-unsur peta yang akan kami ulas pada kesempatan kali ini. Namun sebelum itu kami review kembali apa yang dimaksud dengan peta. Telah dijelaskan bahwa pengertian peta merupakan gambaran permukaan bumi yang lebih terperinci dan diperkecil menurut ukuran geometris pada suatu bidang datar sebagaimana penampakannya dari atas. Suatu peta dikatakan baik dan lengkap apabila memuat beberapa unsur peta. Terdapat sejumlah 12 unsur-unsur Peta yang akan kami bagikan pada kesempatan kali ini beserta ulasannya masing-masing.
Unsur Peta
Unsur-unsur Peta

Unsur-unsur Peta

Berikut 12 unsur peta yang menjadi salah satu syarat agar pembuatan peta tersebut dikategorikan baik:

1. Judul Peta

Judul peta terletak di bagian atas yang biasanya menyebutkan jenis peta, lokasi wilayah yang dipetakan, serta keadaan yang digambarkan dalam peta tersebut.

2. Skala Peta

Merupakan angka yang menunjukkan perbandingan jarak dalam peta jika dibandingkan dengan jarak sesungguhnya. Selengkapnya lihat Pengertian Skala Peta.

3. Tanda Arah

Tanda arah atau sering pula disebut mata angin, biasanya menyerupai panah yang ujungnya runcing menunjukkan arah utara.

4. Tata Warna

Penggunaan warna pada peta bertujuan untuk memperjelas atau mempertegas objek-objek yang ingin ditampilkan. Pemakaian warna pada suatu peta tentu akan memberikan makna tersendiri bagi pembuat dan juga para penggunanya. Tidak ada peraturan yang baku mengenai penggunaan warna dalam peta. Jadi, penggunaan warna adalah bebas, sesuai dengan maksud atau tujuan si pembuat peta, dan kebiasaan umum. Meskipun bebas, tetap saja harus diperhatikan unsur-unsur kesesuaian dan kemenarikan.

Beberapa contoh penggunaan warna yang umum dalam peta, antara lain sebagai berikut.
  • Laut, danau, dan sungai digunakan warna biru.
  • Temperatur (suhu) digunakan warna merah atau cokelat.
  • Curah hujan digunakan warna biru atau hijau.
  • Daerah pegunungan tinggi atau dataran tinggi (2000–3000 meter) digunakan warna cokelat tua.
  • Dataran rendah (pantai) ketinggian 0–200 meter dari permukaan laut digunakan warna hijau.
Dilihat dari sifatnya, warna pada peta dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu yang bersifat kualitatif dan yang bersifat kuantitatif.

5. Simbol Peta

Merupakan tanda-tanda konvensional yang umum dipakai untuk mewakili keadaan yang sesungguhnya ke dalam peta. Simbol peta dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
  1. Simbol fisiografis, seperti: relief, hidrologis, oseanologis, klimatologis, dan sebagainya.
  2. Simbol kultur, seperti: jalur transportasi, batas wilayah, dan sebagainya.

6. Lettering (Tata Penulisan)

Lettering ialah semua tulisan atau pun angka yang lebih mempertegas arti dari simbol-simbol yang ada. Pada peta terdapat aturan-aturan penulisan objek-objek geografi. Setidak-tidaknya Terdapat empat aturan penulisan dalam peta yang harus dipatuhi:
  1. Nama-nama ibu kota, negara, benua, dan pegunungan harus ditulis dengan huruf kapital tegak.
  2. Nama-nama samudra, teluk yang luas, laut, dan selat yang luas harus ditulis dengan huruf kapital miring.
  3. Nama-nama kota kecil dan gunung harus ditulis dengan huruf kecil tegak. Awal nama kota dan gunung ditulis dengan huruf besar.
  4. Nama-nama sungai, danau, selat yang sempit, dan teluk yang sempit harus ditulis dengan huruf kecil miring.

7. Legenda

Unsur-unsur peta berikutnya yakni legenda. Adanya legenda merupakan usaha memperjelas keterangan dari simbol yang ada dalam peta. Biasanya terletak di bagian tepi peta. Pada dasarnya Peta merupakan penyederhanaan dari bentuk yang sebenarnya. Oleh karena merupakan penyederhanaan, sudah pasti peng gambaran fenomena permukaan bumi memerlukan simbol-simbol. Bahkan ada juga pihak yang menyatakan bahwa peta itu merupakan bahasa simbolik. Agar simbol-simbol tersebut lebih teratur, pemuatannya harus dikonsentrasikan pada tempat khusus, yaitu dalam kotak legenda.

Legenda pada peta harus menerangkan arti dari simbol-simbol yang terdapat pada peta. Legenda harus menjadi alat untuk mempermudah dan membantu pemahaman para pembaca terhadap isi peta. Pada umumnya, legenda diletakkan di pojok kiri bawah peta. Namun, dapat juga diletakkan pada bagian lain, sepanjang tidak mengganggu ketampakan peta secara keseluruhan, dan kemenarikan peta itu sendiri.

8. Inset Peta

Merupakan upaya untuk memberikan tekanan terhadap sesuatu yang ada dalam peta. Inset peta bertujuan untuk:
  • Menunjukkan lokasi yang penting, tetapi kurang jelas dalam peta, dan
  • Mempertajam atau memperjelas salah satu bagian peta.

9. Garis Astronomis

Berguna untuk menentukan lokasi suatu tempat. Biasanya hanya dibuat tanda di tepi atau pada garis tepi dengan menunjukkan angka derajat, menit, dan detiknya tanpa membuat garis bujur atau lintangnya.

10. Garis Tepi

Biasanya dibuat rangkap. Garis ini dapat dijadikan pertolongan dalam membuat peta pulau, atau suatu wilayah agar tepat di tengah-tengahnya.

11. Sumber Peta

Salah satu kelengkapan yang harus ada dan dapat menunjukkan baik tidaknya sebuah peta adalah pencantuman sumber. Sumber data yang akan digunakan dalam peta dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu survei langsung ke lapangan (data primer) atau menggunakan data-data yang telah ada sebelumnya (data sekunder).

Pencantuman sumber kutipan data yang dipakai dalam peta dapat menunjukkan:
  • Pengakuan pembuat peta akan validitas data yang telah dihasilkan oleh si pembuat data atau pengumpul data;
  • Legalisasi peta yang dihasilkan.

Di dalam pengambilan data yang akan digunakan untuk isi peta, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pembuat peta, yaitu sebagai berikut.
  1. Relevansi data terhadap peta yang akan dihasilkan.
  2. Sumber data yang akurat.
  3. Aktualisasi data terhadap peta.
Penggunaan sumber data yang cepat dan akurat bukan saja hasilnya akan baik, tetapi lebih dari itu memberi kepastian kepada penggunaan peta mengenai keabsahan data tersebut. Semakin lengkap, akurat, dan benar data yang tercantum dalam sebuah peta, berarti peta akan semakin banyak diakses oleh berbagai pihak dibanding dengan peta lainnya.

12. Tahun Pembuatan

Tahun pembuatan atau reproduksi berlainan dengan tahun keadaan peta. Misalnya, peta yang kita buat adalah tentang sebaran penduduk Indonesia tahun 2011, yang kita buat pada tahun 2017, maka dalam judul harus kita cantumkan “Peta Sebaran Penduduk Indonesia Tahun 2011”. Sedangkan, di luar garis kita tuliskan tahun reproduksinya, yaitu tahun 2017. Begitupun dengan pembuatan peta Indonesia ataukah peta dunia.

Itulah keduabelas Unsur unsur Peta yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini. Sebenarnya unsur peta sendiri itu juga tergantung dari jenis peta yang hendak dibuat serta siapa pembuatnya. Kesemua unsur pada peta di atas merupakan pondasi dari pembuatan peta untuk menghasilkan peta yangbetul-betul dapat bermanfaat dan dimanfaatkan sesuai dengan tujuan utama dari sebuah peta. Demikian dan semoga bermanfaat.

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter